//
anjeun keur maca...
Dunscription

Filosofi Hidup dalam Gerakan Sholat


Sebagai seorang muslim tentu kita tahu apa itu sholat dan bagaimana cara mengerjakannya. Sholat merupakan Rukun Islam yang kedua dan ibadah umat Islam yang paling utama. Tanpa sholat, semua ibadah yang lain akan menjadi tak berarti di hadapan ALLAH SWT.

Sholat merupakan ibadah yang dilakukan dengan olah tubuh manusia, lebih utama dilakukan sambil berdiri. Namun apabila karena satu dan lain hal tidak bisa berdiri, maka sholat bisa dilakukan dengan cara duduk, berbaring, atau dengan isyarat. Bagaimanapun juga, gerakan-gerakan sholat selalu sama, diawali takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam.

Sudah tentu kita sebagai umat Islam yang selalu melaksanakan sholat dari kecil sampai sekarang  (Aamiin Yaa Allah Yaa Rabbal Alamin) hafal dengan gerakan-gerakan sholat. Tapi, tahukah kalian bahwa di dalam gerakan-gerakan sholat terkandung filosofi dalam menghadapi kehidupan di dunia ini? Syukur Alhamdulillah kalau kalian sudah tahu, dan bagi kalian yang belum tahu, jangan berkecil hati. Saya dengan senang hati akan memberitahukannya kepada kalian semua. Disimak, yaa…!!

Di dalam gerakan shalat, ada tiga gerakan yang mengubah posisi (kedudukan) kepala. Gerakan-gerakan itu adalah berdiri atau duduk, ruku dan sujud. Ketika kita berdiri atau duduk, kepala kita berada dalam posisi yang lebih tinggi daripada dada kita. Ketika kita ruku, kepala kita berada dalam posisi yang sejajar dengan dada kita. Dan ketika kita sujud, kepala kita berada dalam posisi yang lebih rendah daripada dada kita.

Nah, setelah menyimak penjelasan di atas, kira-kira sobat semua sudah bisa menebak filosofi apa yang terkandung di dalamnya? Masih belum?

Filosofi yang terkandung dalam gerakan-gerakan tersebut adalah ketika kita menghadapi berbagai persoalan hidup, kita harus bijaksana dalam menggunakan otak dan hati kita. Setiap persoalan hidup memerlukan penanganan yang berbeda-beda. Kadangkala, kita harus berada dalam posisi berdiri atau duduk, yakni mengedepankan otak kita (berpikir logis) dalam menghadapi suatu persoalan hidup daripada mengedepankan hati kita (perasaan). Di lain waktu, kita harus berada dalam posisi ruku, yakni menggunakan kemampuan otak dan hati kita dengan seimbang. Dan ada pula saatnya, kita harus berada dalam posisi sujud, yakni mengedepankan hati kita daripada otak kita.

Perlu diingat bahwa yang namanya persoalan hidup itu tidak selamanya berupa kesedihan, kesusahan, atau penderitaan. Kebahagiaan dan kemudahan juga merupakan suatu persoalan (ujian) hidup dari ALLAH SWT.

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?” (Q.S. Al-Ankabut : 4)

Kelak semua itu akan diminta pertanggung jawabannya di Yaumul Qiyamah.

“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?” (Q.S. Yunus : 24)

Wallahu a’lam.

Bandung, 24 Juli 2010

Asep Saripudin

About Asep Saripudin

Hello, world! I'm Asep Saripudin.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Chat with Me

Author’s Profile

Writing Days

July 2010
M T W T F S S
« Jun   Jan »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Shouting on Twitter

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,119 other followers

%d bloggers like this: