Bagaimana Bahasa Membentuk Pola Pikir (Bagian 1)


Artikel ilmiah bersambung ini merupakan terjemahan artikel psikologi kognitif yang ditulis oleh Lera Boroditsky dan dimuat di Majalah Scientific America edisi Februari 2011. CMIIW.

***

Bagaimana Bahasa Membentuk Pola Pikir

Bahasa yang kita gunakan memengaruhi persepsi kita terhadap dunia

Oleh Lera Boroditsky

Saya berdiri di samping seorang anak perempuan berusia lima tahun di Pormpuraaw, sebuah komunitas kecil Aborigin di pinggiran barat Cape York di Australia bagian Utara. Ketika saya memintanya untuk menunjukkan arah Utara, dia menunjuknya dengan tepat dan tanpa ada keraguan. Kompas saya membuktikan bahwa dia benar. Di kemudian hari, kembali ke ruang kuliah di Universitas Stanford, saya meminta hal yang sama kepada hadirin yang terdiri atas sarjana-sarjana terkemuka–para pemenang  medali sains dan penghargaan jenius. Beberapa dari mereka telah menghadiri ruangan ini untuk perkuliahan selama lebih dari 40 tahun. Saya meminta mereka untuk menutup mata mereka (sehingga mereka tidak berbuat curang) dan menunjukkan arah Utara. Banyak dari mereka yang menolak; mereka tidak mengetahui jawabannya. Mereka yang menunjuk berpikir sejenak  tentang hal itu dan membidik semua arah yang memungkinkan. Saya telah mengulangi latihan ini di Harvard dan Princeton dan di Moskow, London dan Beijing, hasilnya selalu sama.

Seorang anak berusia lima tahun di satu kebudayaan dapat dengan mudah melakukan sesuatu hal yang sulit dilakukan oleh ilmuwan-ilmuwan terkemuka. Ini adalah sebuah perbedaan besar dalam kemampuan kognitif. Apa yang dapat menjelaskannya? Jawaban yang mengejutkan yang keluar mungkin bahasa.

Gagasan yang menyatakan bahwa bahasa dapat memberikan kemampuan kognitif yang berbeda kembali berabad-abad. Sejak tahun 1930an gagasan itu telah dihubungkan dengan linguis Amerika, yakni Edward Sapir dan Benjamin Lee Whorf, yang meneliti bagaimana bahasa bervariasi dan mengemukakan pendapat bahwa penutur bahasa yang berbeda mungkin berpikir dengan cara yang berbeda. Walaupun pendapat mereka pada awalnya menghebohkan, ada satu masalah kecil: kurang lengkapnya bukti yang mendukung pernyataan mereka. Pada 1970an banyak ilmuwan kecewa dengan hipotesis Spir-Whorf, dan itu adalah semua kecuali ditinggalkan sebagai satu set teori yang yang menyatakan bahwa bahasa dan pemikiran merupakan kekuatan universal atas hidup. Tapi sekarang, berpuluh-puluh tahun kemudian, akhirnya sebuah bukti empiris yang solid yang menunjukkan bagaimana bahasa membentuk pola pikir telah muncul. Bukti tersebut menjungkirbalikkan dogma tentang keuniversalan yang telah bertahan lama dan memberikan wawasan yang menarik atas asal-usul pengetahuan dan konstruksi realitas. Hasilnya berimplikasi penting bagi hukum, politik dan pendidikan. (bersambung)

***

Bagian 2

Bagian 3

Bagian 4

Bagian 5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s