Bagaimana Bahasa Membentuk Pola Pikir (Bagian 2)


Di bawah pengaruh

Di seluruh dunia orang-orang berkomunikasi satu sama lain menggunakan susunan bahasa yang memesona–dikatakan sekitar 7.000 atau lebih–dan setiap bahasa memerlukan hal-hal yang sangat berbeda dari penuturnya. Sebagai contoh, katakanlah saya ingin mengatakan kepada Anda bahwa saya melihat Paman Vanya  di 42nd Street. Dalam Bahasa Mian, bahasa yang digunakan di Papua Nugini, kata kerja yang saya gunakan akan mengungkapkan apakah peristiwa tersebut baru saja berlangsung, berlangsung kemarin atau di masa lalu, sedangkan dalam Bahasa Indonesia, kata kerja itu bahkan tidak akan menunjukkan apakah peristiwa itu telah terjadi di masa lalu atau masih akan datang. Dalam Bahasa Rusia, kata kerja akan menunjukkan jenis kelamin saya. Dalam Bahasa Mandarin, saya harus menentukan apakah Paman Vanya itu dari pihak ibu atau bapak dan apakah Paman Vanya bertalian oleh darah atau perkawinan, karena terdapat kata-kata yang berbeda untuk semua jenis paman yang berbeda-beda ini dan kurang lebihnya (dia kebetulan adalah saudara laki-laki ibu, sebagaimana terjemahan Bahasa Cina menyatakannya dengan jelas). Dan dalam bahasa Pirahā, bahasa yang dituturkan di Amazon, saya tidak dapat mengatakan “42nd” karena tidak terdapat kata untuk bilangan seksama, hanya ada kata-kata untuk “tidak banyak” dan “banyak.”

Bahasa berlainan satu sama lain dalam berbagai cara, tapi bukan berarti bahwa hanya karena mereka berbicara dengan berbeda-beda, mereka harus berpikir dengan berbeda-beda pula. Bagaimana kita dapat mengatakan apakah penutur Bahasa Mian, Rusia, Indonesia, Mandarin atau Pirahā ujung-ujungnya memang memperhatikan dunia, mengingat dunia dan berpikir tentang dunia dalam cara yang berbeda-beda karena bahasa yang mereka tuturkan? Penelitian di laboratorium saya dan di banyak lainnya telah mengungkapkan bagaimana bahasa bahkan membentuk dimensi-dimensi kehidupan manusia yang paling mendasar: ruang, waktu, hubungan sebab akibat dan hubungan dengan satu sama lain.

Mari kita kembali ke Pormpuraaw. Tidak seperti Bahasa Inggris, Bahasa Kuuk Thaayorre yang dituturkan di Pormpuraaw tidak menggunakan istilah-istilah spasial relatif seperti kiri dan kanan. Malah penutur Kuuk Thaayorre berbicara dalam istilah-istilah arah kardinal mutlak (Utara, Selatan, Timur, Barat dan seterusnya). Tentu saja, dalam Bahasa Inggris kita juga menggunakan istilah-istilah arah kardinal mutlak tapi hanya untuk skala ruang yang besar. Sebagai contoh, kita tidak akan mengatakan, “They set the salad forks southeast of the dinner forks—the philistines!” Tapi dalam bahasa Kuuk Thaayorre arah kardinal digunakan dalam skala apa pun. Hal ini berarti bahwa orang ujung-ujungnya mengatakan hal-hal seperti “cangkir itu ada di sebelah Tenggara dari piring” atau “anak laki-laki yang berdiri di sebelah Selatan Mary dalah saudara laki-laki saya.” Di Pormpuraaw, orang harus selalu berorientasi, hanya untuk bisa berbicara dengan benar. (bersambung)

***

Bagian 1

Bagian 3

Bagian 4

Bagian 5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s