Bagaimana Bahasa Membentuk Pola Pikir (Bagian 3)


Terlebih lagi, penelitian groundbreaking yang dilakukan oleh Stephen C. Levinson dari Institut Max Planck untuk Psycholinguistics di Nijmegen, Belanda, dan John B. Haviland dari Universitas California, San Diego, selama dua dekade terakhir telah menunjukkan bahwa orang-orang yang menuturkan bahasa yang bersandar kepada arah-arah mutlak sangat cakap dalam menentukan tempat di mana mereka berada, bahkan di alam terbuka atau di dalam gedung yang asing. Mereka melakukan ini lebih baik daripada orang-orang yang tinggal di lingkungan tersebut tapi tidak menuturkan bahasa semacam itu dan bahkan lebih baik daripada ilmuwan-ilmuwan memikirkan hal-hal yang bisa dilakukan oleh manusia. Tuntutan bahasa mereka mendesak dan melatih kecakapan kognitif ini.

Orang-orang yang berpikir dengan pola yang berbeda tentang ruang juga mungkin sekali berpikir dengan pola yang berbeda tentang waktu. Sebagai contoh, kolega saya Alice Gaby dari Universitas California, Berkeley, dan saya memberikan penutur Kuuk Thaayorre kumpulan gambar yang menunjukkan perkembangan waktu–bertambah tuanya manusia, bertumbuhnya buaya, pisang yang sedang dimakan. Kami kemudian meminta mereka untuk menyusun foto-foto yang diacak di atas permukaan tanah agar mengindikasikan susunan waktu yang benar.

Kami menguji setiap orang dua kali, dan setiap kali pengujian menunjukkan arah kardinal yang berbeda. Penutur Bahasa Inggris yang diberikan tugas ini akan menyusun kartunya sedmikian rupa sehingga urutannya waktunya dari kiri ke kanan. Penutur Bahasa Ibrani akan cenderung mengurutkan kartunya dari kanan ke kiri. Percobaan ini membuktikan bahwa arah penulisan dalam sebuah bahasa memengaruhi cara kita mengatur waktu. Meskipun demikian, penutur Bahasa Kuuk thaayorre tidak secara rutin menyusun kartunya dari kiri ke kanan atau dari kanan ke kiri. Mereka mengatur kartunya dari Timur ke Barat. Ini adalah kartu yang disusun dari kiri ke kanan ketika mereka duduk menghadap ke Selatan. Ketika mereka menghadap ke Utara, kartu-kartu tersebut disusun dari kanan ke kiri. Ketika mereka menghadap ke Timur, kartu-kartu itu disusun sejajar menghadapi tubuh mereka, dan seterusnya. Kami tidak pernah memberitahu siapa pun ke arah mana mereka menghadap–penutur Bahasa Kuuk Thaayorre sudah mengetahuinya dan secara spontan menggunakan orientasi spasial untuk membangun representasi mereka tentang waktu.

Representasi waktu bervariasi dalam berbagai cara yang lain di seluruh dunia. Sebagai contoh, penutur Bahasa Inggris menganggap masa depan berada “di depan” dan masa lalu berada “di belakang”. Pada tahun 2010 Lynden Mills dari Universitas Aberdeen di Skotlandia dan koleganya menemukan bahwa penutur Bahasa Inggris secara tidak sadar berayun ke depan ketika memikirkan tentang masa depan dan berayun ke belakang ketika memikirkan tentang masa lalu. Tapi dalam Bahasa Aymara, sebuah bahasa yang dituturkan di Andes, masa lalu dikatakan berada di depan dan masa depan berada di belakang. Dan bahasa tubuh penutur Bahasa Aymara sesuai dengan cara mereka berbicara: Pada tahun 2006 Raphael Núñez dari U.C.S.D. dan Eve Sweetser U.C. Berkeley menemukan bahwa sikap tubuh penutur bahasa Aymara ada di depan mereka ketika membicarakan tentang masa lalu dan di belakang mereka ketika membicarakan masa depan. (bersambung)

***

Bagian 1

bagian 2

Bagian 4

Bagian 5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s