The Sweet Escape: Sayang Heulang & Santolo


Enam belas sampai dengan delapan belas Juli 2011 adalah tiga hari yang tak akan terlupakan dalam hidup saya. Untuk pertama kalinya, saya dengan 4 orang “keponakan” berlibur ala backpacker. Sebetulnya saya mengharapkan sekitar 30 kawan-kawan dan “keponakan-keponakan” saya yang lain untuk ikut dalam perjalanan kali ini, namun apa hendak dikata, kebanyakan dari mereka tidak dapat ikut karena berbagai sebab. Bahkan ada yang membatalkan keikutsertaan pada saat-saat terakhir karena Force Major (I do feel sorry for them) sehingga tinggallah kami berlima yang tersisa.

The Trip

Setelah melalui pencarian informasi dan diskusi yang cukup panjang sebelum keberangkatan, akhirnya diputuskan bahwa destinasi kami adalah Pantai Sayang Heulang dan Santolo yang terletak di Kec. Pameungpeuk, Kab. Garut, Jawa Barat, Indonesia. Kami berangkat dari terminal Cicaheum, Bandung dengan menggunakan sejenis metro-mini jurusan Bandung-Garut yang berwarna Pink dan berlogo Smiley Face berwarna kuning. Sungguh manis bukan moda transportasi umum yang satu ini?

Kami menaiki metro-mini tersebut sekira pukul 9.30 WIB. Unfortunately, metro-mini tidak segera berangkat karena menunggu muatan penuh alias ngetem sekitar 1 jam lamanya. Belum lagi diperparah dengan kemacetan di Nagreg sehingga perjalanan menuju Kota Garut yang semula diperkirakan 2 jam jadi molor sampai 4 jam. Sekira pukul 13.30 kami tiba di Terminal Guntur, Garut. Kami langsung menuju Musholla untuk melaksanakan shalat Dzuhur dan Ashar secara Jama’ dan Qashar. Ongkos yang kami keluarkan untuk metro-mini ini adalah sebesar Rp 13.000,- per orang.

Dari terminal Guntur, Garut kami melanjutkan perjalanan dengan menggunakan mobil Elf (baca: Elep) jurusan Garut-Pameungpeuk. Setelah melakukan negosiasi, tercapailah kesepakatan bahwa dengan ongkos sebesar Rp 30.000,- Elf akan membawa kami langsung ke Pantai Sayang Heulang. Sama halnya seperti metro-mini, Elf ini pun ngetem, namun kali ini tidak terlalu lama.

Di luar dugaan, Elf melaju dengan kecepatan sedang dan sedikit tidak ugal-ugalan, di luar kebiasaannya. Dari Garut, Elf melaju ke arah Selatan melewati jalan yang berkelok-kelok menuju Cikajang, lalu Cikelet, kemudian Pameungpeuk dan berakhir di Sayang Heulang dengan jarak tempuh sekitar 86 km dan waktu tempuh sekitar 4 jam. Pemandangan sepanjang jalan sungguh menakjubkan dan tidak membosankan. Mulai dari kebun teh, pergunungan, hingga pemandangan lembah-lembah yang luar biasa bisa kami nikmati.

Kira-kira 30 km sebelum tujuan, supir menghentikan Elf di sebuah rumah makan untuk beristirahat sejenak dan mengisi ulang perut. Tampaknya rumah makan ini semacam rest area untuk angkutan Elf jurusan Garut-Pameungpeuk. Kami pun ikut turun untuk makan siang (padahal sudah sore.. hehehe..). Rumah makan ini menyediakan berbagai macam masakan khas Sunda seperti pepes ikan, pepes ayam, ayam & ikan mas goreng, tahu & tempe goreng, lalaban dan tentunya sambal terasi. Kebanyakan dari kami waktu itu memilih untuk makan dengan lauk ayam goreng seharga Rp 10.000,- per porsi, harga yang pantas untuk sepotong ayam berukuran besar dan enak di tempat yang jauh dari perkotaan.

Setelah beristirahat sekitar 30 menit, perjalanan dilanjutkan kembali. Sayangnya, sisa perjalanan ini tidak semulus dan senyaman sebelumnya. Kondisi jalan yang berkelok-kelok diperparah dengan aspal yang tidak rata dan banyak lubang-lubang kecil menyebabkan perjalanan menjadi tidak nyaman dan mengalami turbulensi (seperti pesawat saja.. hehehe..). Bagi orang yang mudah mabuk darat sebaiknya minum obat anti mabuk dan menyediakan kantong muntah karena kami pun yang tahan, sempat merasa mual.

The Lodge

Adzan Maghrib sedang berkumandang ketika kami sampai Pantai Sayang Heulang. Supir mengantarkan kami sampai ke ujung Timur pantai. Perjalanan yang panjang dan melelahkan membuat kami ingin segera berbaring meluruskan punggung. Tanpa membuang waktu, kami pun bergegas mencari penginapan. Kami diberitahu supir dan kernet Elf untuk menanyakan penginapan kepada pemilik warung mana saja. Kami bertanya kepada pemilik warung terdekat dengan tempat kami turun. Pemilik warung tersebut adalah seorang wanita paruh baya yang baik hati. Dan berita mengejutkan pun datang. Ibu itu berkata bahwa saat itu rombongan PLN sedang berwisata di sana dan memborong penginapan yang ada. Namun beliau tetap membawa saya (saya minta “keponakan-keponakan” saya untuk menunggu dulu di warung) ke penginapan yang dijaga seorang pemuda yang sopan, Penginapan Panglayungan Indah, yang berada di pojok Utara (terima kasih banyak, Bu).

Awalnya saya ditawarinya satu-satunya kamar kecil yang tersisa kira2 berukuran 3 x 5 m2, dengan fasilitas double bed dan kamar mandi di dalam seharga Rp 60.000,- per malam. Namun, karena saya merasa itu akan menjadi kurang nyaman untuk kami berlima (secara saya laki-laki satu-satunya, hehehe..), saya menanyakan apakah ada semacam bungalow atau rumah. Untungnya, alhamdulillah, saya masih bisa mendapatkan bungalow (rumah bambu panggung) yang nyaman: dengan fasilitas 2 kamar tidur dengan masing-masing 1 ranjang besar, ruang tengah, dan kamar mandi di dalam seharga Rp 300.000,- per malam. Setelah deal, saya pun segera memanggil “keponakan-keponakan” saya.

The Atmosphere

Di tengah perjalanan kami menuju Sayang Heulang, seseorang dari kami berkelakar (lebih tepatnya bertanya) apakah Pantai Sayang Heulang hawanya sejuk karena hawa di sepanjang perjalanan memang sejuk. Mendengar hal itu, kontan saja kami semua tertawa terbahak-bahak karena menganggap hal itu konyol. Atas dasar pengalaman saya mengunjungi beberapa pantai, saya pun balik bertanya, “Mana ada pantai yang hawanya sejuk?” Namun, pada saat kami jalan-jalan di pantai di malam hari kedatangan kami sambil menikmati indahnya bulan purnama, alangkah terkejutnya saya mendapati bahwa hawa di Pantai Sayang Heulang memang tergolong sejuk. Bahkan ketika menjelang Shubuh (Sunda: wanci janari) kami sampai merasa kedinginan. Hal ini tidak pernah saya temukan sebelumnya ketika saya mengunjungi Pulau Umang maupun Bali. Sepanjang hari di Pulau Umang dan Bali selalu terasa panas dan gerah.

Keesokan harinya, setelah sholat Shubuh kami segera menuju pantai untuk menyaksikan indahnya pemandangan sunrise. Kami berjalan menyusuri pantai ke arah Timur dan memutuskan untuk menikmati sunrise di atas sebuah batu karang yang besar. Pemandangan yang tersaji sungguh menyejukkan hati. Apalagi bulan purnama masih terlihat di langit yang mulai berwarna jingga. Kami begitu terpesona olehnya, lebih tepatnya tersihir. Kami pun bergiliran untuk mengabadikan momen ini dengan berfoto dengan latar belakang pemandangan ini.

Bisa dikatakan Pantai Sayang Heulang merupakan pantai dengan lanskap yang komplet. Berbagai macam pasir pantai ada di sini. Mulai dari pasir putih yang penuh dengan butiran putih dan agak tajam yang berasal dari karang dan kerang yang mati sampai dengan pasir hitam yang halus. Di pinggir pantai yang berbatasan dengan daratan masih banyak terdapat pohon-pohon mangrove yang hijau yang menahan abrasi dan menjadi habitat bagi beberapa jenis hewan. Sementara di pinggir pantai yang berbatasan dengan lautan terdapat lapangan terumbu karang yang sebagian besarnya ditumbuhi rumput laut, seperti padang sabana di pinggir laut.

Ombak di kedua pantai ini tergolong besar, khas pantai Selatan Jawa (Laut Kidul). Angin yang berembus pun cukup kencang. Keadaan ini membuat pantai ini tidak cocok untuk berenang maupun berselancar karena dapat membahayakan jiwa. Tapi, jangan khawatir! Bagi yang ingin berenang, Anda bisa melakukannnya di wilayah lapangan terumbu karang karena di sana terdapat beberapa daerah cekungan yang membentuk kolam-kolam kecil yang tidak berombak dan berair sangat jernih. Sekali Anda melihat kejernihan airnya, Anda akan sulit untuk memalingkan mata Anda, dan membuat Anda ingin berlama-lama menikmatinya.

Sore harinya kami menyusuri pantai dari Sayang Heulang menuju Santolo. Jarak tempuhnya sekitar 3-5 km. Di sepanjang perjalanan, “keponakan-keponakan” saya asyik memunguti kerang-kerang yang sudah kering untuk dikoleksi. Tentu saja waktu tempuh perjalanan pun menjadi lama. Sekira pukul 16.30, kami tiba di Santolo.  Sayangnya, karena waktu kami sedikit, kami tidak bisa menjelajahi Santolo lebih jauh sehingga hanya bisa menikmati sisi Santolo yang dekat dengan Sayang Heulang.

Di sini, sekali lagi kami dibuat takjub oleh keindahan pantainya. Pasirnya putih, airnya jernih, hutan mangrovenya lebat dan hijau, dan batu-batu karangnya  besar. Di sini kami menghabiskan waktu sekitar 1 jam lebih sampai terlihat Sunset. Sayangnya, kami tidak bisa mengabadikan sunset karena kamera yang kami bawa tidak mampu untuk mengambil gambarnya sehingga kami hanya berfoto di sekitar pantai dan hutan. Walaupun demikian, keindahannya masih tergambar di hati kami.  Semoga suatu hari nanti kami bisa mengunjungi Sayang Heulang & Santolo lagi.🙂

Sayang

Masih terlihat birumu
Masih terlihat hijaumu

Masih terdengar bisikanmu
Masih terdengar teriakanmu

Masih terasa kelembutanmu
Masih terasa kesejukanmu

Duhai engkau yang teramat cantik
Aku ingin menemuimu seribu kali lagi

Rekapitulasi biaya perjalanan

Transportasi:

  1. Bandung (Cicaheum)-Garut: Rp 13.000 x 5 = Rp 65.000
  2. Garut-Sayang Heulang: Rp 30.000 x 5 = Rp 150.000
  3. Sayang Heulang-Garut: Rp 30.000 x 5 = Rp 150.000
  4. Garut-Bandung (Leuwi Panjang): Rp 15.000 x 5 = Rp 75.000

Penginapan: Rp 600.000/2 malam (Bungalow)

Makan:

  1. Rest Area: Rp 53.500 + Rp 51.000 = Rp 104.500
  2. 2 kg Cumi-cumi + Nasi + Kerupuk + Minum = Rp 110.000
  3. Kelapa muda: Rp 2.500 x 5 = Rp 12.500

Total: Rp 1.267.000

Total biaya perorangan: Rp. 1.267.000 : 5 = Rp 253.400

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s