Bagaimana Bahasa Membentuk Pola Pikir (Bagian 4)


MENGINGAT SIAPA MELAKUKAN APA

Penutur bahasa yang berbeda juga berbeda dalam bagaimana mereka menggambarkan peristiwa dan, sebagai hasilnya, hal ini berpengaruh dalam seberapa baik mereka dapat mengingat siapa melakukan apa. Semua kejadian, bahkan kecelakaan sepersekian detik, sangat rumit dan mengharuskan kita untuk menafsirkan dan memaknai apa yang terjadi. Ambil contoh kecelakaan berburu burung puyuh yang dialami mantan wakil presiden Dick Cheney, ketika beliau secara tidak sengaja menembak Harry Whittington. Orang bisa mengatakan bahwa “Cheney menembak Whittington” (yang mana Cheney merupakan penyebab langsung), atau “Whittington tertembak oleh Cheney” (menjauhkan Cheney dari akibat yang dihasilkannya), atau ” Whittington terluka cukup parah” (tidak melibatkan Cheney sama sekali). Cheney sendiri mengatakan “Pada akhirnya saya adalah orang yang menarik pelatuk yang menembakkan peluru yang menembus Harry,” menambahkan keterangan pada runtutan panjang peristiwa antara dirinya dan akibat yang dihasilkannya. Penerimaan Presiden George Bush —“he heard a bird flush, and he turned and pulled the trigger and saw his friend get wounded” (beliau mendengar gerak-gerik burung, kemudian berbalik, menarik pelatuk dan melihat temannya terluka)— bahkan merupakan pembenaran yang sangat lihai, mengubah Cheney dari agen menjadi saksi hanya dengan kurang dari satu kalimat.

Publik Amerika jarang terpengaruh dengan geliat bahasa seperti itu karena bahasa non agentif dalam bahasa Inggris terkesan seperti mengelak, suatu hal yang dikuasai oleh anak-anak dan politisi yang bersalah karena lalai. Penutur bahasa Inggris cenderung untuk mengutarakan suatu hal dalam konstruksi orang melakukan sesuatu, lebih memilih konstruksi transitif seperti “John broke the vase”, bahkan untuk kecelakaan. Sebaliknya, penutur bahasa Jepang atau Spanyol, kurang suka untuk menyebutkan agen saat menjelaskan sebuah peristiwa kebetulan. Dalam bahasa Spanyol bisa dikatakan “Se rompió el florero,” yang diterjemahkan menjadi “vas itu pecah” atau “vas itu pecah sendiri.”

Mahasiswa saya Caitlin M. Fausey dan saya telah menemukan bahwa perbedaan linguistik seperti itu memengaruhi bagaimana orang menafsirkan apa yang terjadi dan memiliki konsekuensi untuk memori pengamat. Dalam penelitian kami yang diterbitkan pada tahun 2010, sejumlah penutur bahasa Inggris, Spanyol dan Jepang menyaksikan video dua orang yang memecahkan balon, memecahkan telur dan menumpahkan minuman baik disengaja atau tidak disengaja. Kemudian kami memberi mereka ujian memori kejutan. Untuk setiap peristiwa yang telah mereka saksikan, mereka harus mengatakan siapa yang  melakukannya, seperti dalam barisan orang-orang yang dicurigai polisi. Kelompok lain penutur bahasa Inggris, Spanyol dan Jepang menggambarkan peristiwa yang sama. Ketika kami melihat data memori, kami dengan pasti menemukan perbedaan dalam memori pengamat yang diprediksikan oleh pola-pola dalam bahasa. Penutur ketiga bahasa menjelaskan peristiwa yang disengaja secara agentif, mengatakan hal-hal seperti “He popped the balloon,” dan ketiga kelompok ini mengingat orang yang melakukan tindakan ini dengan sengaja sama baiknya. Namun, ketika beralih membahas kecelakaan, muncullah perbedaan yang menarik. Penutur bahasa Spanyol dan Jepang kurang suka menggambarkan kecelakaan secara agentif daripada penutur bahasa Inggris, dan, sejalan dengan itu, mereka kurang baik dalam mengingat siapa yang melakukannya daripada penutur bahasa Inggris. Secara keseluruhan, ini bukan karena mereka memiliki memori yang kurang. Mereka ingat agen peristiwa yang disengaja (yang mana bahasa mereka akan secara alami menyebutkan agen) sama baiknya seperti yang dilakukan penutur bahasa Inggris.

Tidak hanya bahasa memengaruhi apa yang kita ingat, tetapi struktur bahasa dapat membuat lebih mudah atau lebih sulit bagi kita untuk mempelajari hal-hal baru. Misalnya, karena kata-kata bilangan dalam beberapa bahasa mengungkapkan bahwa struktur pokok basis-10 lebih transparan daripada kata-kata bilangan dalam bahasa Inggris (sebagai contoh, tidak ada belasan yang bermasalah seperti 11 atau 13 dalam bahasa Mandarin), anak-anak yang mempelajari  bahasa-bahasa tersebut dapat mempelajari wawasan basis-10 lebih cepat. Dan berdasarkan pada berapa banyak jumlah suku kata yang dimiliki kata bilangan, akan membuat lebih mudah atau lebih sulit untuk mengingat nomor telepon atau untuk melakukan mental hitung. Bahasa bahkan dapat memengaruhi seberapa cepat anak-anak mengetahui apakah mereka itu laki-laki atau perempuan. Pada tahun 1983 Alexander Guiora dari University of Michigan di Ann Arbor membandingkan tiga kelompok anak-anak yang tumbuh dengan bahasa Ibrani, bahasa Inggris atau Finlandia sebagai bahasa asli mereka. Bahasa Ibrani sangat memperhatikan gender (bahkan kata “Anda” berbeda, tergantung pada jenis kelamin), bahasa Finlandia tidak memperhatikan gender dan bahasa Inggris di antara keduanya. Dengan demikian, anak yang tumbuh dalam lingkungan berbahasa Ibrani mengetahui jenis kelamin mereka sendiri sekitar setahun lebih awal dari anak-anak yang berbahasa Finlandia, dan anak-anak yang berbahasa Inggris ada di antara keduanya. (bersambung)

***

Bagian 1

Bagian 2

Bagian 3

Bagian 5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s