Bah!! Apalah Artinya Sebuah Nama?!


Kalian mungkin pernah mendengar ungkapan ini: “Apalah artinya sebuah nama?!”. Ungkapan tersebut mengesankan bahwa nama itu tidaklah penting. Nama dalam bahasa Indonesia bermakna: 1 kata untuk menyebut atau memanggil orang (tempat, barang, binatang, dsb); 2 gelar; sebutan; 3 kemasyhuran; kebaikan (keunggulan); kehormatan (KBBI daring). Sementara itu dalam bahasa Inggris, nama disebut name yang bermakna: 1 [C] word(s) by which a person or thing is known; 2 [usu sing] general opinion that people have of sb/sth; reputation; 3 famous person. Dari keterangan-keterangan ini dapat disimpulkan bahwa nama itu penting. Bagaimana mungkin kita akan mengenali sesuatu atau seseorang kalau orang atau benda itu tidak memiliki nama. Memang bisa saja kita mengenali seseorang atau sesuatu tanpa mengetahui namanya (dalam istilah Sunda disebut wawuh munding), namun tentunya hal ini akan menimbulkan kesulitan ketika kita harus membuat orang lain mengenali orang atau benda itu. Dengan kata lain nama itu berfungsi  untuk membedakan seorang manusia dari manusia lainnya, laki-laki dari perempuan, dan satu benda dari benda lain.

Sebuah Do’a

Nama kita biasanya mengandung sebuah do’a dari sang pemberi nama (biasanya orang tua kita). Oleh karenanya nama itu akan memberikan pengaruh terhadap orang yang menyandangnya, sehingga janganlah kita memberikan nama yang buruk kepada anak-anak kita dan jangan pula memberikan panggilan (julukan) yang buruk kepada mereka maupun kepada orang lain. Berikanlah mereka nama dan panggilan (julukan) yang terbaik supaya memberikan pengaruh terbaik terhadap mereka dan orang-orang di sekitar mereka.

Bagi sebagian muslim yang awam (termasuk saya), nama yang terbaik adalah nama yang berasal dari Al-Quran. Anggapan ini ada benarnya, namun ada pula salahnya. Al-Quran itu memuat tidak hanya nama orang-orang terbaik di muka bumi ini, seperti Rasulullah Muhammad SAW, tapi juga memuat nama orang-orang terburuk di muka bumi ini, seperti Abu Jahal, Qarun dan Firaun.

Lalu, apakah nama-nama yang terbaik menurut Islam? Pertama, sebaik-baiknya nama adalah ‘Abdullah dan ‘Abdurrahmaan (HR. Muslim 2132) karena kedua nama ini mengandung sifat penghambaan dalam ibadah dan ini hanya ada kaitannya antara Alloh SWT dan hamba. Kedua, nama bentuk penghambaan (‘Abdu/’Abdul) terhadap Asmaul Husna lainnya, seperti ‘Abdul Aziz, ‘Abdul Rozaq, dan ‘Abdul Malik. Ketiga, nama para nabi dan rasul Alloh seperti Adam, Nuh, Ibrahim, Ismail, Musa, dan terutama Muhammad (HR. Muslim 2134-2135 dan Bukhari 6187). Keempat, nama orang-orang sholeh terutama Khulafaur Rasyidin (bagi laki-laki), yaitu Abu Bakar, ‘Umar, Utsman, dan Ali, dan 11 istri Rasulullah (bagi perempuan), yaitu Khadijah binti Khuwalid, Saudah binti Zumah, ‘Aisyah binti Abu Bakar Ash-Shidiq, Hafshoh binti ‘Umar bin Al-Khaththab, Zainab binti Khuzaimah, Ummu Salamah Hindun binti Abu Umayyah, Zainab binti Jahsy bin Rayyab, Juwairiyyah binti Al-Harits, Ummu Habibah Romlah binti Abu Sufyan, Shofiyah binti Huyai bin Akhthab, dan Maimunah binti Al-Harits. Kelima, nama lainnya yang memenuhi syarat:
1.    menggunakan bahasa Arab (ini menunjukkan terlarangnya menggunakan nama yang kebarat-baratan);
2.    memiliki susunan dan makna yang bagus, jangan ada unsur celaan maupun pensucian diri (tazkiyah) di dalamnya;

dan adab:
1.    menggunakan nama sesuai urutan terbaik;
2.    menggunakan nama yang terdiri atas huruf yang jumlahnya sedikit;
3.    menggunakan nama yang mudah diucapkan di lisan;
4.    memudahkan orang yang mendengar untuk mengingatnya;
5.    menggunakan nama yang cocok dengan orang yang diberi nama dan tidak keluar dari kebiasaan yang dipakai dalam agamanya atau masyarakat sekitarnya.

Dari penjelasan adab tambahan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa nama yang panjang seperti Asep Ismail Marzuki Badriawan Syarifudin Martanegara itu kurang bagus. Nama-nama seperti ini (nama yang panjang) akan menyulitkan orang untuk mengingatnya dan membuat orang beranggapan bahwa nama itu merupakan nama dari beberapa orang.

Sebuah Cerita

Selain do’a, setiap nama juga biasanya mengandung cerita (historical background) tentang mengapa seseorang diberi nama demikian. Kita ambil contoh saja nama saya Asép Saripudin, yang Alhamdulillah memenuhi kriteria penamaan di atas.😀

Menurut cerita dari ibu saya, nama saya adalah pemberian dari Uwa jauh saya. Lho mengapa demikian? Bukankah seharusnya ayah lah yang lebih berhak memberikan nama kepada anaknya? Itulah, Kawan, masalahnya. Ayah kandung saya meninggal dunia ketika saya masih dalam kandungan ibu bulan kedelapan sehingga banyak saudara ibu yang berebut ingin memberikan nama kepada saya begitu saya lahir. Karena demikian, akhirnya diputuskan bahwa setiap orang akan memberikan satu nama yang kemudian akan diundi (siga arisan wae?!). Pada saat itu Uwa berkata pada ibu saya dengan penuh keyakinan bahwa nama darinya lah yang akan keluar. Dan ternyata keyakinan Uwa terbukti. Nama darinya lah yang keluar. Akan tetapi saudara-saudara ibu yang lain tidak merasa puas sehingga meminta untuk diulang pengundiannya. Setelah diulang, tetap nama itu yang keluar. Diulang sekali lagi, nama itu juga yang keluar. Bayangkan, Kawan! Sampai diulang tiga kali pun, nama Syarifudin lah yang selalu keluar. Ya, itulah nama asli pemberian Uwa saya.

Terus, bagaimana bisa menjadi Asép Saripudin? Begini ceritanya. Zaman dulu tidak seperti zaman sekarang yang mana sebagian besar bayi yang baru lahir itu langsung dicatat dalam catatan sipil dan dibuatkan akta kelahirannya. Apalagi di kampung kecil di Kabupaten Garut sana, tempat kelahiran saya (yang sebenarnya), yang baru masuk listrik di pertengahan ‘90an. Urusan seperti itu cukup dicatat di kepala yang sewaktu-waktu bisa lupa; ibu saya termasuk di dalamnya. Beliau tidak langsung membuatkan akta kelahiran saya karena memang di kampung hal seperti itu tidaklah terlalu penting. Baru ketika akan masuk sekolah, para orang tua di kampung ramai-ramai membuat akta kelahiran anak mereka.

Setelah ibu menikah lagi ketika saya masih kecil dan belum bisa mengingat setiap event yang terjadi, ayah tiri saya membawa kami pindah ke Bandung. Dan di situlah nama Asép muncul. Petugas kependudukan yang mengurus kepindahan memanggil saya Asép (sigana mah pédah geus lumrah di Bandung mah ngageroan budak lalaki téh Asép) sehingga petugas pembuat akta pun menambahkan nama Asép di depan Syarifudin. Namun, akhirnya nama yang tercetak di akta kelahiran adalah Asép Saripudin bukan Asép Syarifudin seperti seharusnya. Sepertinya akibat pengaruh lidah Sunda yang sulit mengucapkan ‘F’ kali ye? Hehe…

Ini cerita namaku. Apa ceritamu???

 

Asép Saripudin, dari berbagai sumber.

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s