Bagaimana Bahasa Membentuk Pola Pikir (Bagian 5)


APA MEMBENTUK APA?

Ini hanya sedikit dari banyaknya temuan yang menarik dari perbedaan-perbedaan lintas-linguistik dalam kognisi. Tapi bagaimana kita tahu apakah perbedaan dalam bahasa menimbulkan perbedaan dalam cara berpikir, atau sebaliknya? Ternyata jawabannya adalah keduanya–cara kita berpikir mempengaruhi cara kita berbicara, begitu pun sebaliknya. Dalam dekade terakhir kita telah melihat betapa banyak demonstrasi orisinil yang menetapkan bahwa bahasa memang memainkan peran kausal dalam membentuk kognisi. Penelitian telah menunjukkan bahwa mengubah cara orang-orang berbicara mengubah pula cara mereka berpikir. Mengajari orang-orang nama-nama warna yang baru, misalnya, mengubah kemampuan mereka untuk membedakan warna. Dan mengajari orang cara baru membicarakan waktu memberikan mereka cara baru untuk berpikir tentang waktu.

Cara lain untuk memahami pertanyaan di atas adalah dengan mempelajari orang-orang yang fasih dalam dua bahasa. Penelitian telah menunjukkan bahwa penutur dua bahasa mengubah cara pandang mereka terhadap dunia mengikuti bahasa yang mereka utarakan. Dua set temuan yang diterbitkan pada 2010 menunjukkan bahwa bahkan hal yang sangat mendasar seperti siapa yang Anda sukai dan tidak sukai tergantung pada bahasa apa yang diminta untuk Anda gunakan. Studi-studi tersebut, satu oleh Oludamini Ogunnaike dan rekan-rekannya di Harvard dan satu lagi oleh Shai Danziger dan rekan-rekannya di Universitas Ben Gurion, Negev, Israel, mengacu kepada penutur bahasa Arab-Prancis di Maroko, penutur bahasa Spanyol-Inggris di AS dan penutur bahasa Arab-Ibrani di Israel dalam setiap kasus pengujian bias implisit dari para peserta ujicoba. Sebagai contoh, penutur bahasa Arab-Ibrani diminta untuk dengan cepat menekan tombol dalam menanggapi kata-kata dalam berbagai kondisi. Dalam satu kondisi jika mereka melihat nama Yahudi seperti “Yair” atau sifat positif seperti “baik” atau “kuat”, mereka diperintahkan untuk menekan “M,”; Jika mereka melihat nama Arab seperti “Ahmad” atau sifat negatif seperti “jahat” atau “lemah”, mereka diminta untuk menekan “X.” Dalam kondisi lain pemasang katanya dibalik sehingga nama-nama Yahudi dan sifat-sifat negatif menempati satu tombol respon, dan nama-nama Arab dan sifat-sifat positif menempati satu tombol respon. Peneliti mengukur seberapa cepat subyek mampu memberi tanggapan dalam dua kondisi tersebut. Percobaan ini telah secara luas digunakan untuk mengukur respon bawaan atau prasangka-prasangka otomatis; seberapa alami hal-hal seperti sifat-sifat positif dan kelompok etnis terlihat berjalan beriringan dalam pikiran orang.

Secara menakjubkan, para peneliti menemukan pergeseran-pergeseran besar respon bawaan atau prasangka otomatis ini pada penutur dua bahasa tergantung pada bahasa mana mereka diuji. Penutur bahasa Arab-Ibrani, untuk bagian mereka, menunjukkan sikap implisit yang lebih positif terhadap orang-orang Yahudi saat diuji dalam bahasa Ibrani daripada ketika diuji dalam bahasa Arab.

Bahasa juga kelihatannya terlibat dalam aspek mental kehidupan kita lebih banyak daripada yang diduga oleh para ilmuwan sebelumnya. Orang bergantung pada bahasa bahkan ketika melakukan hal-hal sederhana seperti membedakan pola warna, menghitung titik-titik pada layar atau berorientasi di sebuah ruangan kecil: rekan-rekan saya dan saya telah menemukan bahwa membatasi kemampuan orang untuk mengakses kemahiran berbahasa yang mereka kuasai dengan fasih–misalnya dengan memberikan mereka tugas verbal yang menuntut persaingan seperti mengulang laporan berita–mengganggu kemampuan mereka untuk melakukan tugas-tugas ini. Ini berarti bahwa kategori dan perbedaan yang ada pada bahasa tertentu secara sangat luas turut campur tangan dalam kehidupan mental kita. Apa yang peneliti sebut “berpikir” selama ini tampaknya benar-benar menjadi sebuah kumpulan proses linguistik dan non-linguistik. Sebagai akibatnya, mungkin tidak banyak manusia dewasa yang berpikir di mana bahasa tidak memainkan peran.

Sebuah fitur yang menjadi ciri kecerdasan manusia adalah kemampuannya dalam beradaptasi, kemampuan untuk menciptakan dan mengatur ulang konsepsi dunia untuk menyesuaikan dengan tujuan dan lingkungan yang berubah-ubah. Satu konsekuensi dari fleksibilitas ini adalah banyaknya ragam bahasa yang telah muncul di seluruh dunia. Masing-masing menyediakan peralatan kognitif sendiri dan merangkum pengetahuan dan pandangan dunia yang dikembangkan selama ribuan tahun dalam suatu budaya. Masing-masing berisi cara memersepsikan, mengategorikan dan membuat makna di dunia, sebuah pedoman yang tiada ternilai harganya yang dikembangkan dan diasah oleh nenek moyang kita. Penelitian tentang bagaimana bahasa yang kita tuturkan membentuk cara kita berpikir membantu para ilmuwan untuk mengungkap bagaimana kita menciptakan pengetahuan dan membangun realitas dan bagaimana kita harus menjadi secerdas dan secanggih seperti seharusnya. Dan pada gilirannya, wawasan ini membantu kita memahami esensi dari apa yang membuat kita manusia. (Tamat)

***

Bagian 1

Bagian 2

Bagian 3

Bagian 4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s