Menggali Kepemimpinan Sunda


Oleh Elis Suryani NS (Dosen dan Peneliti Budaya Sunda, Fakultas Ilmu Budaya Unpad)

Muncul dan merebaknya arogansi serta tindak kekerasan berkaitan dengan aksi-aksi radikalisme saat ini, salah satunya disebabkan tidak terpuaskannya keinginan individu maupun sekelompok anggota masyarakat berkenaan dengan pemberdayaan dan kesejahteraan hidup masyarakat. Hal ini tentu saja tidak terlepas dari masalah kepemimpinan.

Masalah kepemimpinan berkelindan erat dengan sifat, sikap, karakter, dan kebijakan seorang pemimpin dalam menangani suatu masalah yang terjadi di masyarakat atau dalam sebuah komunitas tertentu. Sehubungan dengan itu, perlu ditelusuri dan dikaji secara mendalam apa dan bagaimana sikap juga perilaku seorang pemimpin agar kepemimpinannya sesuai dengan yang diharapkan oleh masyarakatnya.

Naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesian mengungkap Dasa Prasanta, yang kaidahnya berpijak kepada kuantitas dan kualitas hubungan antarmanusia (human relationship) dalam kepemimpinan. Paparan Dasa Prasanta merupakan intisari “ilmu memimpin/manajemen”, meskipun secara tersirat dikatakan bahwa seseorang baru bisa menjadi pemimpin apabila dalam pribadinya melekat karakter kepemimpinan yang disebut pangimbuhning twah atau pelengkap untuk mempunyai karisma/pamor.

Ada dua belas unsur pangimbuhning twah yang harus menjadi penanda karakter seorang pemimpin. Kedua belas pelengkap ini menitikberatkan kepada aspek-aspek karakter yang harus dimiliki seorang pemimpin. Keduabelas pelengkap ini menitikberatkan kepada aspek-aspek karakter yang harus dimiliki seorang pemimpin berupa karakter positif yang harus dipertahankan dan dikembangkan sebagaimana tertuang dalam naskah SSK, yang meliputi: a) Emét artinya ‘tidak konsumtif’. Seorang pemimpin yang terbiasa untuk tidak konsumtif, akan mampu mengendalikan keserakahannya; b) Imeut (teliti, cermat). Jika seorang pemimpin ceroboh dan kurang teliti terhadap pekerjaannya, maka banyak waktu yang terbuang untuk memperbaiki kekeliruannya karena ketidakcermatan yang telah diperbuatnya; c) Rajeun (rajin). Selama hidupnya tetap berkarya, pemimpin yang demikian mampu memanfaatkan durasi usianya dengan pekerjaan yang ditekuninya; d) Leukeun (tekun). Ketekunan dalam mencapai tujuan yang dicita-citakan. Ketekunan selalu berkaitan erat dengan kesabaran; e) Paka Pradana (berani) tampil/berbusana sopan, beretika. Seorang pemimpin yang tanapa berbekal etika dalam pergaulan, perasaan simpati dan empati pun akan menghilang secara perlahan.

Pangimbuhning twah yang keenam yakni f) Morogol-rogol  (bersemangat, beretos kerja tinggi); g) Purusa ning sa (berjiwa pahlawan, jujur, berani). Kreasi dan inovasi serta pembaharuan yang berkualitas prima hanya terlahir dari pemimpin yang berjiwa pahlawan. Para pembaharu yang berani menantang kemandegan pemikiran manusia; h) Widagda (bijaksana) rasional dan memiliki keseimbangan rasa. Kesombongan rasio yang kadang-kadang sangat mendominasi pemikiran manusia perlu diimbangi dengan rasa sejati kemanusiaan; i) Gapitan (berani berkorban untuk keyakinan dirinya). Keyakinan merupakan satu-satunya cara untuk mencapai visi hidup seorang pemimpin; j) Karawaléya (dermawan). Hidup adalah kebersamaan dengan orang lain. Kesalehan sosial sangat diperlukan dari seorang pemimpin; k) Cangcingan (terampil, cekatan). Hanya pemimpin yang cekatan yang mampu memanfaatkan kesempatan yang ada karena kesempatan tidak datang dua kali; l) Langsitan (rapekan), segala bisa, multitalenta, dan proaktif.

Selain karakter baik, ada juga empat karakter yang negatif yang tidak boleh dimiliki serta harus dijauhi oleh sorang pemimpin jika ingin berkarisma. Keempat karakter tersebut dikenal dalam SSK sebagai “opat paharaman” atau empat hal yang diharamkan, yakni: 1) Babarian (mudah tersinggung). Pemimpin yang demikian berpikiran sempit, arogan, cepat marah, dan selalu ingin menang sendiri serta mudah dipangaruhi orang lain; 2) Pundungan (mudah merajuk). Pemimpin yang demikian akan kehilangan kesempatan dalam segala hal, karena tidak bisa bekerjasama; 4) Kukulutus (menggerutu).

Naskah SSK selain mengupas sifat baik dan buruk seorang pemimpin, juga tertuang watak manusia yang membuat kerusakan di dunia yang disebut Catur Buta, yaitu empat watak manusia yang berkarakter raksasa perusak kehidupan, yakni: a) Burangkak, dikenal sebagai mahluk mahagila yang sangat mengerikan, tidak ramah, sering membentak. Burangkak berkelakuan kasar, berhati panas, tidak tahu tatakrama dan sering melanggar aturan; b) Mariris, orang yang menjijikan lebih dari bangkai binatang yang membusuk; manusia yang suka mengambil hak orang lain, korup menipu, berdusta; c) Maréndé, dalam SSK adalah sebangsa raksasa bermuka api. Pada awalnya rakyat menduga bahwa pemimpin tersebut berwatak menyejukkan, mampu membawa masyarakat hidup damai dan tentram, tapi setelah menjadi pemimpin ternyata malah membawa panas dan menimbulkan bencana di masyarakat; d) Wirang, dalam SSK ditampilkan sebagai binatang yang menakutkan, yaitu orang yang tidak mau jujur, tidak mau mengakui kesalahan dirinya, tidak mau berterus terang, serta selalu menyalahkan orang lain.

Melalui kepemimpinan yang terungkap dalam naskah Sunda, diharapkan mampu mencegah aksi-aksi arogansi dan radikalisasi yang selama ini berkembang di masyarakat. Para pemimpin beserta bawahannya harus senantiasa caringcingpageuh kancing, waspada terhadap situasi dan kondisi yang terjadi di masyarakat. Kita mengharapkan negara yang senantiasa mendapat lindungan dan rida Allah, dengan seorang pemimpin berkarakter sebagaimana terkuak dalam naskah Sunda. Kepemimpinan yang adil palamarta, menjadikan negara kita tata tingtrim kerta raharja, gemah ripah répéh rapih, subur mamur loh jinawi, murah sandang, murah pangan. Semoga.

Sumber: Harian Pikiran Rakyat No. 110 Tahun XLVII, Sabtu 14 Juli 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s