Clock fleur de lis_edited

Waktu dan Bahasa


Lain padang, lain belalang. Lain kolam, lain pula ikannya. Lain bahasa, lain juga bangsanya.

***

Dari beberapa bahasa yang pernah dan sedang saya pelajari, lazim saya temui perubahan bentuk kata kerja (konjugasi) yang dipengaruhi oleh konsep waktu. Yang paling mudah dikenali dalam hal ini tentunya bahasa Inggris yang terkenal dengan tenses-nya.

Sejauh yang saya tahu dalam bahasa-bahasa tersebut konsep waktu dipisahkan setidaknya menjadi 2 bagian besar: sekarang dan masa lalu (present and past). Sebagai contoh, dalam bahasa Inggris come merupakan bentuk present untuk ‘datang’ dan came untuk bentuk past-nya. Sementara itu dalam bahasa Jepang bentuk present untuk ‘datang’ adalah kimasu (きます) dan kimashita (きました) untuk bentuk past-nya.

Akan tetapi, berbeda dari bahasa-bahasa di atas, tata bahasa Indonesia tidaklah demikian. Kata kerja dalam bahasa Indonesia sama sekali tidak terpengaruh oleh waktu. Tidak ada bedanya ‘datang’ dalam bentuk present maupun past.

Saya datang ke kampus setiap hari Senin. (present)
Saya datang ke pesta tadi malam. (past)

Bangsa-bangsa yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari seperti Inggris Raya, Amerika, Australia, Singapura dan Selandia Baru merupakan bangsa-bangsa yang terkenal dengan disiplin waktunya. Begitu pula dengan bangsa Jepang. Mereka sangat memperhitungkan waktu sampai-sampai akumulasi keterlambatan kereta api selama setahun hanya beberapa menit saja. Disiplin waktu yang tertanam dalam kehidupan mereka inilah yang menjadi salah satu faktor kemajuan mereka.

Seperti halnya bahasanya yang tidak terpengaruh oleh waktu, sayangnya, bangsa Indonesia pun kebanyakan demikian. Kebanyakan dari mereka tidak begitu menghargai waktu dan terlambat merupakan hal yang biasa saja. Jam karet, begitu istilahnya, sudah membudaya dan menjadi salah satu penghambat kemajuan bangsa.

Fakta- fakta di atas bila dikaitkan dengan teori dari Lera Boroditsky tentang pengaruh bahasa terhadap pola pikir membawa saya pada satu kesimpulan: bahasa-bahasa tersebut telah memberikan pengaruh yang berbeda dan signifikan terhadap para penuturnya dalam hal penghargaan terhadap waktu.

Semoga dengan semakin banyaknya yang mempelajari bahasa-bahasa asing yang memiliki konsep waktu di dalamnya, seperti bahasa Inggris dan Jepang, di negeri tercinta ini, semakin meningkat pula penghargaan bangsa ini terhadap waktu agar semakin maju.

2 comments

  1. Mantap dulur/baraya/brader
    kebanyakan orang indonesia belajar hanya sebatas bahasa doank, buat naikin status dimata orang lain. Bukan untuk mencari kelebihan dari bahasa yang mereka pelajari, sehingga wajar saja bila yang ada hanya sebatas bisa ngomong tanpa bisa menyerap nilai positif dari kultur asli dari bahasa yang mereka pelajari, kata orang jerman mah, asal kadenge gaya ngomong aringgis teh, paduli teuing kalakuan mah.

    Okeh brader

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s