Manusia Gula Batu


Di suatu senja di musim yang lalu. Ketika itu hujan rintik-rintik. Tersebutlah seorang santri yang baru saja khatam nyantren akan ‘turun gunung’ untuk mengamalkan ilmu yang didapatnya selama ini. Ia pun menemui gurunya untuk berpamitan.

“Buya, saya hari ini pamit undur diri mau turun gunung untuk menerapkan ilmu yang saya dapat selama di sini ke tengah-tengah masyarakat.”

“Baiklah, Anakku. Buya mengizinkanmu, tapi sebelumnya Buya akan memberimu ilmu untuk terjun ke tengah-tengah masyarakat.”

“Seperti apakah ilmu itu, Buya? Ilmu kanuragan kah?”

“Hush! Sembarangan! Mana bisa Buya yang sudah tua renta ini ngajarin kamu silat. Kalau ngajarin nyeupah mah bisa. Hehehe.. Coba sekarang kamu carikan batu, telur sama gula batu.”

“Buat apa, Buya?”

“Sudah, jangan banyak tanya! Ambilkan saja! Jangan lupa siapin juga kompor, panci sama air 3 set.”

“Siap, Buya!”

Si santri pun pergi ke sana ke mari untuk menyiapkan pesanan sang Buya. Tak berapa lama ia pun mendapatkannya dan segera kembali menghadap Buya.

Alhamdulillah, apa yang Buya minta sudah saya dapatkan. Sekarang apa yang harus saya perbuat dengan semua ini? Akan dimasak jadi ramuan kebal peluru kah?”

“Euuh… Si Ujang mah ngaco aja. Buya mau tanya sekarang. Dari ketiga benda yang kamu bawa, apa yang jadi persamaan benda-benda itu?”

“Hhmmm… Apa ya?! Oo… Iya.. Sama-sama keras kan, Buya?”

“Betul sekali. Sekarang coba kamu masak air di panci-panci itu, terus masukkan batu, telur dan gula batu ke masing-masing panci.”

“Baik, Buya.”

Si santri pun merebus batu, telur dan gula batu itu beberapa lamanya.

Setelah beberapa jam Buya pun kembali menemui santri itu.

“Bagaimana, Jang? Apa yang terjadi dengan benda-benda yang kamu rebus tadi?”

“Batunya tetap keras, tapi air rebusannya jadi kotor. Kalau telur dia tetap keras juga, tapi air rebusannya tetap bersih. Sedangkan gula batu, dia jadi hilang tak bersisa tapi airnya tetap bersih.”

“Apakah kamu mengerti maksud dari semua ini?”

“Hhmmmm… Berapa lama pun kita memasak batu, tetap ia tak bisa dimakan atau diminum. Lain halnya dengan telur dan gula batu, mereka tentu bisa dimakan atau diminum. Betul begitu, Buya?”

“Betul, tapi bukan itu yang Buya maksudkan.”

“Lantas apa maksud Buya yang sesungguhnya? Terus terang saya bingung.”

“Begini, anakku. Batu, telur dan gula batu itu gambaran dari dirimu. Sementara air yang dipanaskan itu gambaran dari masyarakat dan pengaruhnya terhadapmu. Sebagaimana kita ketahui tadi sebelum direbus batu itu keras dan setelah direbus beberapa jam pun tetap keras. Malah, ia mengotori air rebusannya.

“Anakku, kamu jangan seperti batu. Kamu turun ke masyarakat dengan idealisme yang kuat tapi kamu tidak bisa menyelaraskan idealismemu itu sehingga kamu tidak bisa berbaur dengan mereka. Kamu tetap kukuh dengan dirimu sendiri dan ingin tetap menonjolkan wujudmu sehingga walaupun kamu sudah bergaul dengan mereka sekian lama kamu tetap tidak bisa memberi pengaruh positif. Sebaliknya, kamu justru memberi pengaruh negatif kepada mereka. Naudzubillaah. Sekali lagi, jangan jadi manusia batu anakku!”

Insya Alloh, saya tidak akan meneladani batu, Buya. Bagaimana dengan telur?”

“Kamu jangan menjadi telur juga, Anakku! Telur tidak mengubah air rebusannya dan sebelum dan sesudah direbus cangkangnya tetap keras. Walaupun demikian, coba kamu pecahkan cangkangnya. Betapa lembut isinya ketika sebelum direbus, namun jadi mengeras setelah direbus.

“Itu artinya kamu turun ke masyarakat dengan idealisme yang nampaknya kuat tapi sebetulnya lemah. Namun setelah sekian lama bercengkrama dengan masyarakat idealismemu menjadi semakin kuat. Sayangnya, kamu tidak memberikan pengaruh apapun kepada masyarakat. Sekali lagi, jangan jadi manusia telur, Anakku!”

Insya Alloh, saya tidak akan meneladani telur juga. Lalu, bagaimana dengan gula batu?”

“Gula batu sebelum direbus sangat keras, namun ia manis rasanya. Setelah direbus ia tak berwujud dan tampaknya air rebusannya tidak berubah. Namun bila kamu cicipi airnya, baru terasa air itu berubah jadi manis.

“Anakku, terjunlah ke masyarakat seperti gula batu. Kamu datang dengan idealisme yang kuat namun tidak kaku. Seiring waktu kamu bisa berbaur dengan masyarakat dan kamu bisa memberikan pengaruh positif tapi tidak menonjolkan wujudmu. Orang-orang boleh saja tidak mengenalmu tapi mereka pasti mengenali manisnya kontribusimu. Oleh karena itu, jadilah manusia gula batu, Anakku!”

Subhanallah, do’akan muridmu ini supaya bisa menjadi manusia gula batu, Buya. Sungguh ilmu kemasyarakatan ini akan saya pegang kukuh selamanya. Terima kasih atas nasihat-nasihat dan ilmu-ilmu berharganya. Maaf, saya belum bisa membalas segala kebaikan, Buya. Jazakallahu khairan katsira. Semoga Allah Swt. membalasnya dengan yang jauh lebih baik. Aamiin.”

“Aamiin. Terima kasih atas do’amu, Nak. Semoga Allah Swt. selalu melindungimu. Semoga Buya masih ada umur untuk melihatmu sukses di masyarakat. Aamiin.”

“Aamiin… Sekali lagi terima kasih, Buya. Maaf atas segala kesalahan dan kekhilafan selama saya menuntut ilmu di sini. Saya pamit, Buya!”

“Pergilah, Anakku! Taklukanlah medan jihadmu!”

Santri itu pun memeluk dan mencium tangan gurunya sebelum pergi. Ia pergi dengan penuh keyakinan akan nasihat-nasihat dan ilmu-ilmu yang ia dapat dari gurunya. Ia yakin bahwa ia akan menjadi manusia gula batu di masyarakat.

Di muka gerbang pesantren ia berhenti sejenak lalu mengepalkan tangannya sambil berteriak.

“Do’akan saya, pemirsa!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s