Kujang bukan Senjata (Bagian 2)


Ahli sejarah dan kesenian Sunda, almarhum Saleh Danasasmita dengan menggunakan nama samaran Asmalasuta menulis dalam karangan berjudul Semar djeung Kudjang (majalah Handjuang No. 5, 1971) bahwa ia merasa berdosa kalau membiarkan saja, karena telah terjadi kekeliruan yang telah diterima masyarakat secara luas tentang Semar dan kujang. Menurut para ahli, ternyata kepercayaan itu bisa dibentuk. “Sanajan carita hayal mun ditabeuh unggal waktu, dipasieup siga heueuh, lila-lila bakal dianggap enyaan.” (Meski cerita hayali, kalau diberitakan tiap waktu, dibuat-buat seakan-akan benar, lama-lama akan dianggap benar). Karena itu, dia merasa perlu menulis karangan untuk menjelaskan hal yang sebenarnya walaupun ia tahu bahwa “mun beja geus dipercaya hese ngabedokeunana” (kalau berita sudah dipercaya, susah membatalkannya).

Saya tidak akan mengutip yang ditulis Saleh mengenai Semar, melainkan hanya akan mengutip tentang kujang. Menurut Saleh dia menunjukkan bahwa tentang kujang sudah diteliti dan dibahas oleh Snouck Hurgronje dalam majalah TBG (Tijdschrift van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen) jilid 41 (1904). Snouck melakukan penelitiannya di daerah Priangan yang masih ditemukan berbagai macam kujang. Tapi pada waktu itu pun (awal abad ke-20), sudah tidak dapat diperoleh keterangan tentang bagaimana menggunakannya. Kujang yang sekarang populer adalah kujang Bandung yang dengan fantasi yang cukup dapat dianggap sebagai senjata. Padahal kujang-kujang yang terdapatdi daerah-daerah lain bukanlah bentuk senjata untuk perang. Yang terdapat di daerah Banten lebih dekat dengan bentuk arit.

Dalam naskah Sunda Kuno koropak 360 (Siksa Kandang Karesyian) waktu menguraikan tentang dina nataan senjata buat pakakas poertang yang disebut ialah pedang,abeet panusuk, golok, peso poateundeut, nusuk, golok, dan keris. Kujang tidak disebut. Kujang disebut sebagai alat bertani, yaitu kujang, baliung, patik, kored, sadap. Di Banten ada peribahasa yang kira-kira berbunyi “mun aya bentang kidang, turun kujang” (kalau bintang kidang telah tampak, kujang pun diturunkan untuk digunakan. Bintang kidang menjadi tanda bahwa musim hujan sudah tiba, waktunya turun ke ladang. Dari peribahasa itu jelas bahwa kujang itu alat bertani.

Setelah kujang dimitoskan sebagai senjata orang Sunda, wajarlah kalau tumbuh kebanggaan terhadap kujang dan didorong oleh rasa bangga itu lantas banyak orang yang membuat kujang senjata sesuai dengan fantasinya. Konon Prof. Dr. Kusnaka Adimihardja pernah mengemukakan pendapat bahwa kujang memang mempunyai beberapa fungsi. Ada yang memang sebagai perkakas bertani, tetapi ada juga sebagai senjata untuk perang, di samping kujang yang diberikan oleh penguasa sebagai penghargaan, yang disebut “kujang nugraha”. Apakah penemuan fungsi-fungsi (yang tidak diperoleh oleh Snouck Hurgronje pada awal abad ke-20) itu berdasarkan penelitian yang cermat dan ilmiah? Sebab mungkin saja, karena didorong oleh kebanggan terhadap senjata warisan leluhur seperti yang dimitoskan, belakangan banyak orang membuat kujang sesuai dengan fantasinya.

Karena itu, saya merasa lucu (dan sedih) waktu membaca berita “Kujang Didaftarkan ke UNESCO” (Pikiran Rakyat Sabtu, 21 Juli, 2012). Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat bersama dengan Tim Gugus Hak Kekayaan Intelektual (HKI) hendak mengajukan agar UNESCO mengakui kujang “sebagai senjata tradisional orang Sunda”. Selain Tim Gugus HKI ada juga dosen ITB dan para sarjana, pejabat pemda, staf gubernur, dan wakil dari komunitas kesundaan.

Entah siapa yang pernah mengadakan penelitian tentang kujang. Yang jelas dalam berita itu alasan yang dikemukakan oleh Aris Kurniawan, M.Sh., staf pengajar Seni Rupa ITB sama sekali tidak bersifat ilmiah, melainkan “ngelmu” karena alasan itu merupakan kirata basa. Katanya setelah melakukan penelitian selama tujuh tahun, dia sampai pada kesimpulan bahwa “Kudi dalam artian Kudia atau Ku Anjeun, memberi pengertian “Titah” atau perintah dari kahyangan kepada manusia atau manu.Kudi dianggap mempunyai bentuk menyerupai kepala burung, hal ini memberi makna bahwa manusia sebagai bentuk perwakilan Hyang Tunggal atau Tuhan yang senantiasa harus meningkatkan bakti dan bukti kepada negara dan Tuhan Yang Mahakuasa di marcapada atau buwana panca tengah. Nah lu! (tamat)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s