Tak Tahu Maka Tertipu


Sebagai orang Sunda asli ada satu kekhawatiran yang menggelayuti pikiran saya: Mungkinkah suatu hari nanti bahasa Sunda akan punah? Kekhawatiran ini muncul dari pengamatan saya dalam kehidupan sehari-hari di mana semakin banyak orang Sunda keturunan Sunda, baik murni maupun campuran, dan tinggal di tanah Sunda yang tidak mengerti bahasa Sunda sama sekali atau hanya sedikit mengerti  dan hanya bisa menuturkan sedikit kosakata atau paham tapi tidak bisa menuturkannya (penutur pasif). Fenomena ini muncul terutama di Kota Bandung dan sekitarnya dan terjadi pada generasi yang lebih muda, khususnya anak-anak dan remaja.

Faktor orangtua

Bagaimana bisa ini terjadi? Globalisasi, media, dan kehadiran pendatang non-Sunda yang semakin banyak ke Kota Bandung dan sekitarnya saya kira turut andil dalam kemunculan fenomena ini. Penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar di sekolah dan kecilnya bobot pendidikan muatan lokal dalam kurikulum sekolah juga turut mendukung fenomena ini. Okelah, faktor-faktor ini tidak bisa dihindari dan cenderung alamiah. Yang ingin saya soroti di sini adalah faktor orangtua.

Saya menemukan banyak orangtua dan atau kakek-nenek dari keluarga Sunda yang berkomunikasi dengan anak-anak atau cucu-cucunya menggunakan bahasa Indonesia. Katanya, mereka lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia dengan alasan agar anak cucunya terhindar dari kata-kata kasar dan kotor, seperti ‘anj*ng!,’ ‘gobl*g!,’ ‘ew*’ dan sebagainya yang mungkin didapat dari pergaulan dengan teman-temannya bila menggunakan bahasa Sunda. Tentu saja alasan ini benar-benar SALAH. Bagaimanapun juga mereka pasti akan mendapati kata-kata tersebut dalam pergaulan sehari-hari dalam bahasa apapun. Justru dengan tidak memahami dan tidak mengenal bahasa Sunda ia akan mudah sekali dikelabui atau dipermainkan oleh mereka yang jahil yang menguasai bahasa Sunda.

Contoh nyatanya saya mendengar langsung dari teman saya yang jahil dan yang jadi korban. Dulu ketika saya masih bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi, ada seorang rekan yang berasal dari Jawa yang belum bisa berbahasa Sunda. Kita sebut saja dia ‘X’.Dalam tradisi perusahaan kami setiap orang baru pasti akan dibawa berkeliling dan dikenalkan dengan karyawan lama satu per satu, dari divisi ke divisi. Pada saat dibawa ke divisi kami seorang teman yang memang terkenal jahil, sebut saja ‘Z,’ mengajak X ngobrol dan mengajarkan beberapa kosakata Sunda kepada X. Dari sekian kosakata yang diajarkan, salah satunya adalah, maaf, “heunc**t beureum” yang artinya kemaluan perempuan yang kemerahan. Kata Z kepada X, itu artinya “permisi” yang harus diucapkan ketika lewat di depan orang. Karena ketidaktahuannya, si X nurut saja, dan alhasil keesokan harinya ia bercerita bahwa banyak orang yang tertawa saat ia mengucapkan itu, namun tidak sedikit pula yang marah, terutama kaum perempuan. Sontak Z dan teman-teman kami sedivisi tertawa. Setelah itu saya beritahu dia arti sebenarnya dari kosakata yang ia praktikkan tersebut. Akhirnya, si X pun ikut tertawa sekaligus kesal dan malu karena sudah tertipu. Campur aduk.

Ngamumule basa Sunda

Dari pengalaman di atas terlihat jelas bahwa justru untuk menghindarkan anak cucu kita (termasuk kita juga) dari kosakata kasar dan kotor justru harus dengan mengajarkan mereka dengan bahasa Sunda yang baik dan benar agar mereka tidak tertipu dan terjerumus ke dalam penggunaan kosakata kasar dan kotor . Jadikan penguasaan dan pemahaman bahasa yang baik dan benar sebagai filter. Jangan lagi banyak alasan untuk tidak mengajarkan anak cucu kita bahasa Sunda. Saha deui nu rék ngamumulé basa Sunda lamun lain urang Sunda!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s