Fukuoka_Viewed_From_Minamiku_Observation_Deck

Fukuoka: Klasik Sekaligus Modern


Sungai Hakata

Sungai Hakata

Tidak seperti kota-kota besar lain di Jepang, Fukuoka memiliki lima sungai besar yang membelah pusat kotanya dan banyak kanal yang menjadi jalur transportasi air yang ramai dan permai. Karena itu tidak mengherankan bila Fukuoka memiliki banyak jembatan yang menarik seperti jembatan batu Najima Bridge yang dibangun pada tahun 1930-an, jembatan modern Aitaka Bridge yang merupakan jembatan laut terpanjang di Jepang untuk para pejalan kaki dan pesepeda, dan Deai Bridge yang berubin jingga dan kuning.

Fukuoka menawarkan suasana santai. Para pemusik riang bersenandung pada malam hari di Deai Bridge dan jembatan lainnya. Perahu tradisional yakatabune, yang dihiasi dengan lentera berwarna-warni, hilir mudik di Sungai Naka, sementara penumpangnya berpesta sashimi. Namun, di balik suasana santai, Fukuoka juga sibuk sebagai pusat niaga dan budaya. Bandaranya merupakan satu dari tiga bandara tersibuk di dunia.

Perahu Yakatabune

Perahu Yakatabune

Terletak di Pulau Kyushu, pulau utama Jepang yang paling selatan, dan berhadapan langsung dengan Selat Korea yang memisahkan Jepang dari daratan Asia, Fukuoka merupakan salah satu tempat di Jepang yang paling dekat dengan semenanjung Korea dan Tiongkok. Fukuoka terletak di sebelah utara kota Nagasaki, Kagoshima, dan Kumamoto dan selama berabad-abad Fukuoka telah menjadi filter untuk barang dan budaya impor yang masuk ke Jepang. Dengan jarak dari Busan, Korea Selatan yang hanya 214 km dibanding dari Tokyo yang hampir 1.000 km, serta semakin meningkatnya jumlah pelancong dari Asia, kota metropolis dan pelabuhan ini kadang lebih terasa seperti bagian dari daratan Asia daripada kepulauan Jepang.

Istana Fukuoka

Istana Fukuoka

Sebagai kota terbesar di Kyushu, Fukuoka menjadi gerbang bagi para pelancong yang datang dengan menggunakan pesawat, bullet train (ket: kereta super cepat), kapal ferry, dan kapal pesiar. Tata kota Fukuoka juga sangat rapi dan rapat. Pelabuhan Hakata, yang mengelola berbagai fasilitas seperti Fukuoka Convention Center dan terminal kapal ferry, dapat ditempuh dalam waktu singkat dengan menggunakan taksi atau bus. Bandara Fukuoka dan Stasiun Hakata, stasiun penghabisan dari jalur bullet train dari Tokyo, dapat ditempuh dalam hitungan menit dengan menggunakan kereta subway dari pusat perbelanjaan Tenjin. Jika Anda ingin berwisata ke kuil agung Shinto di Dazaifu atau kota kanal tua Yanagawa yang indah di daerah pedesaaan Prefektur Fukuoka, Anda dapat dengan mudah mencapai stasiun kereta Nishitetsu Fukuoka (Tenjin).

Distrik Nakasu

Distrik Nakasu

Di tengah arus modernisasi pada tahun 1889, beberapa kota menggabungkan diri menjadi satu nama Fukuoka, sedangkan Hakata diabadikan menjadi nama kawasan dan stasiun kereta. Meskipun pernah diluluhlantakkan oleh serangan udara A.S. pada tahun 1945, Fukuoka dibangun ulang dengan tetap melestarikan sebagian besar kuil tradisional Budha dan kuil Shinto.

Dari sekian banyak kebanggaan masyarakat Fukuoka, beberapa di antaranya adalah gerbang baru Sennen no Mon (Gerbang Seribu Tahun), mahakarya kerajinan kayu modern yang menjadi pintu masuk kuil distrik Hakata, dan festival Hakata Gion Yamakasa, perayaan yang digelar setiap bulan Juli dengan gotongan-gotongan tradisional berukuran raksasa, yang masing-masing berbobot lebih dari satu ton dan menampilkan patung-patung Hakata yang rumit pembuatannya, yang diarak di atas pundak para pria yang mengenakan pakaian tradisional happi.

Festival Hakata Gion Yamakasa

Festival Hakata Gion Yamakasa

Bagi orang-orang Jepang yang tinggal di daerah lain, Fukuoka berarti satu hal: kuliner, terutama ramen. Kota ini sering dihubungkan dengan versi Hakata dari hidangan mie yang populer ini. Ciri khas ramen Hakata adalah mie tipis dengan kuah keruh dari tulang babi (Oops! Ini haram bagi saudara kita yang Muslim), dan biasanya dihidangkan dengan irisan babi panggang dan bawang perai di atasnya. Hidangan hangat ini dapat diperoleh di kedai-kedai yatai, tempat makan tradisional nan sederhana yang semakin langka di kota-kota lain di Jepang.

Ramen Hakata

Ramen Hakata

Letaknya yang dekat dengan laut membuat kota ini otomatis dibanjiri dengan sushi berkualitas, sashimi dan makanan laut lainnya seperti kaisendon dari sashimi salmon, kerang, ikan bream laut, atau ikan kembung yang dihidangkan di atas nasi. Makanan khas lainnya adalah motsunabe, yakni jeroan sapi atau babi, paprika, dan kubis yang direbus dalam kuah miso dan disajikan dalam hot pot; ayam mizutaki dan sayuran rebus; karashi mentaiko, telur ikan kod asin pedas yang biasanya ditambahkan pada nasi kepal atau pasta; dan tetsunabe gyoza, versi lokal dari pangsit Tiongkok yang berukuran kecil dan berisi daging babi, bawang daun, dan kol. Anda benar-benar akan merasakan cita rasa kesukaan masyarakat lokal.

Seperti halnya di kota-kota Jepang yang lain, Anda akan merasakan keramahan dan sopan santun dari masyarakat Fukuoka. Mereka tidak terbiasa untuk tidak membantu para pelancong, baik dengan menunjukkan jalan, menjelaskan suatu menu, maupun memberitahu jalur kereta. Orang Jepang sering penasaran dengan apa yang dipikirkan oleh para pendatang tentang negaranya, meskipun kadang-kadang mereka merasa malu dengan kemampuan berbahasa Inggrisnya yang terbatas (berbicara pelan-pelan dapat memudahkan mereka). Mencairkan suasana dengan cara memperkenalkan diri bisa berlanjut ke berbagai perbincangan yang menarik dan persahabatan lintas-budaya.

Kuil Kushida-jinja

Kuil Kushida-jinja

Warga Fukuoka tidak akan malu mengakui bahwa mereka akan menggilai suatu tren baru sampai tren baru berikutnya muncul. Tapi satu yang tidak akan berubah adalah kehangatan dan keramahan masyarakat Fukuoka kepada para pengunjung yang datang dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Mereka akan penasaran dengan apa yang dipikirkan oleh para pelancong tentang kota pesisir mereka, kanal-kanalnya, makanan kaki limanya, kedai-kedai mienya, dan sejarah hubungan internasionalnya yang membanggakan. Jadi segera siapkan sepasang sumpit dan nikmati kekayaan sup budaya dan kuliner Fukuoka!

***

Catatan: Semua foto diperoleh dari Wikimedia.org di bawah lisensi Creative Commons

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s